Apa Itu Penyakit Difteri?

Apa Itu Penyakit Difteri

Defenisi Penyakit Difteri

Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit yang pada umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan juga tenggorokan. Serta dalam beberapa kasus difteri parah infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung, sistem saraf dan juga kulit pasien. Infeksi dari difteri ini juga menjadi salah satu penyakit yang dapat mengancam jiwa seseorang.

Seberapa umumkah penyakit Difteri tersebut ?

Penyakit tersebut banyak ditemui pada negara berkembang, indonesia salah satunya yang dimana vaksinasi masih rendah. Dilansir dari halaman WHO indonesia menjadi urutan kedua setelah india untuk kasus difteri terbanyak. Dalam 3.354 pasien difteri 112 diantaranya meninggal dunia. Dalam 92% orang yang terinfeksi tidak mempunyai riwayat imunisasi difteri lengkap. Difteri dapat ditangani dengan mengurangi faktor – faktor resiko, untuk informasi lebih, konsultasilah dengan dokter.

Gejala Penyakit Difteri

Gejala awal yang timbul dalam tubuh biasanya akan muncul pada 5 hari kedepan dari awal bakteri masuk kedalam tubuh. Gejala yang ditimbulkan tubuh akan lebih menonjol pada bagian tenggorokan serta mulut. Gejala atau tanda yang akan muncul seperti berikut ini :

  • Suara serak dan sakit pada tenggorokan.
  • Terdapat pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lelah dan lemas.
  • Masalah pernafasan saat menelan.
  • Kulit pucat serta dingin serta jantung berdebar cepat.
  • Batuk keras ( menggonggong )
  • Pilek yang awalnya cair, namun kelamaan jadi kental dan terkadang bercampur darah.
  • Terdapat selaput tebal berwarna abu – abu sekitaran amandel dan tenggorokan.

Gejala yang kami sebutkan diatas bisa jadi gejala penyakit lainnya, dan masih terdapat gejala yang belum kita sebutkan. Bila terdapat kekhawatiran dengan gejala yang tertulis diatas, segeralah konsultasikan dengan dokter.

Penyebab Penyakit Difteri

Corynebacterium diphtheriae yang merupakan nama bakteri difteri. Bakteri ini juga dikenal juga dengan basillus Klebs-Löffler yang dapat menyebar dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Terdapat beberapa cara yang perlu diwaspadai dalam penularan penyakit ini seperti :

  1. Terhirup percikan ludah pasien di udara sewaktu penderita bersin atau batuk. Ini adalah langkah penyebaran difteri yang sangat umum ditemui.
  2. Sentuhan langsung pada luka borok ( ulkus ) karena difteri di kulit pasien. Penyebaran ini biasanya berlangsung pada pasien yang tinggal di lingkungan yang padat masyarakat serta kebersihannya tidak terjaga ( buruk ).
  3. Pada anak, bisa terjangkit bakteri lewat sentuhan mainan maupun bersentuh dengan piring ataupun gelas bekas penderita difteri yang belum dicuci.

Pengobatan Penyakit Difteri

Untuk mengobati penyakit difteri biasanya dokter akan melakukan diagnosis terlebih dahulu pada pasien. Diagnosis berupa menanyakan beberapa gejala yang dialami oleh pasien dan juga akan mengambil sampel lendir yang terdapat pada tenggorokan, hidung, luka pada kulit untuk di lakukan pemeriksaan lebih dalam laboratorium.

Bila seseorang diduga kuat terjangkit difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum hasil laboratorium keluar, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan perawatan pada ruangan isolasi dalam rumah sakit. Pengobatan akan menggunakan 2 jenis obat, seperti antitoksin serta antibiotik.

Dikarenakan penyebab penyakit ini adalah bakteri, maka antibiotik bisa diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi difteri. Dosis penggunaan antibiotic tergantung pada tingkat keparahan gejala serta lamanya pasien yang menderita penyakit ini.

Setelah mengkonsumsi antibiotik, biasanya pasien akan keluar dari ruang isolasi sesuai yang disarankan oleh dokter. Tapi akan sangat penting dalam mengkonsumsi antibiotik selama 2 minggu atau lebih sesuai dengan anjuran dokter.

Sementara itu, untuk obat antitoksin berfungsi sebagai penetralisir racun yang menyebar dalam tubuh penderita. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan mengecek terlebih dahulu apakah pasien menderita alergi pada obat tersebut ataupun tidak. Apabila tidak terdapat reaksi alergi terhadap obat tersebut, pemberian antitoksin dalam dosis rendah akan dilakukan.

Bila pasien yang kesulitan bernafas dikarenakan hambatan membran abu – abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membrane. Sedangkan pasien yang mengalami gejala pada kulitnya dianjurkan untuk membersihkan bisul atau luka dengan sabun antiseptik.

Selain pasien, dokter akan menyarankan orang yang disekitar pasien untuk segera memeriksakan diri dengan dokter. Hal ini untuk memastikan bahwa orang yang didekatnya mendapatkan penanganan bila tertular penyakit ini.

Pencegahan Penyakit Difteri

Mencegah memang lebih baik dari pengobatan.. Penyakit Difteri bisa juga dicegah dengan vaksin. DPT ( Defteri, Tetanus, Pertusis ) merupakan salah satu vaksin yang sering digunakan untuk imunisasi. Pada bayi usia 2 bulan imunisasi DPT biasanya terdapat sebanyak 5 kali.

Dilansir dari laman resmi infoimunisasi, untuk vaksin DPT kepada anak akan diberikan sebanyak 5 kali pada usia 2, 3, 4, 18 bulan serta pada usia 4 hingga 6 tahun. Khusus anak yang berusia diatas 8 tahun, akan diberikan vaksin TD atau TDAP. Vaksin TD/TDAP dapat melindungi tetanus, difteri, dan juga pertusis yang harus diulang setiap 10 tahun sekali. Ini juga mencakup orang dewasa.

Harus kita ingat kembali bahwa artikel yang ditulis oleh gunawan selaku admin seputarkesehatan bukan sebuah resep ataupun sebuah nasihat medis.. Bila anda memerlukan sebuah kepastian dan juga sebuah bantuan, maka anda bisa berkonsultasi kepada dokter.. terima kasih..

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*